Senin, 03 Maret 2008

MALAM PERTAMA

Malam pertama.
malam pertama selalu menjadi ikon bagi sebuah prosesi pernikahan.
saat orang bercerita tentang proses perkawinan, maka malam pertama menjadi sebuah cabang pemikiran utama. bukan membicarakan tentang betapa beratnya nanti beban menjadi istri, betapa terbatasnya nanti pergaulan setelah berkeluarga, betapa rumitnya kewajiban sosial menjadi istri, tapi begitu pesta perkawinan usai. selalu malam pertama yang menjadi topik tunggal pembicaraan.
seolah olah menjadikan lembaga perkawinan sebagai legalisasi pezinahan.
...
sayangnya, begitulah pola pemikiran kita.
sayangnya aku juga berpikir sama.
.....

Setelah kulepas semua baju pengantin, dan menggantinya dengan daster, rencana akan kulipat dulu, dan ku taruh keluar kamar, karena ini baju sewa, besok harus dikembalikan, habis itu aku mau mandi dulu, rambut yang kaku kena hairspray, muka yang rasanya tebal karena bedak, ingin kubersihkan dulu.
tapi suamiku sudah mendekapku dari blakang, saat aku masih melipat baju pengantinku, menciumi leherku.
aku tersenyum. bukan karena bahagia, tapi sedikit geli, melihat kelakuan suamiku. begitu tidak sabarnya, ini toh bukan membuat laporan pekerjaan yang harus selesai jam sekian, ini bisa ditunda barang 1 - 2 jam, toh kami bisa melakukannya setiap kali kami mau nantinya. Tak seperti pacaran yang aku harus benar benar merapatkan kakiku saat dia menindih aku.
tapi begitulah yang dilakukan suamiku sekarang ini.
begitu tidak sabar, seperti seolah ini adalah tujuan dari seluruh jauh panjang hubungan kami.
tapi ini bukan lagi saatnya menolak. setidaknya aku tidak mau merusak suasana yang ia bangun.
..
kubiarkan ia mencium leherku dan pada saat yang sama ia menyingkap daster, hingga terasa hangat tangannya saat ia meraba hingga mencapai pingganggku, lalu diturunkanya tangannya sambil menarik pelan celana dalamku..
...
Pikiranku mengelana, membayangkan masa kecilku, sampai aku mahasiswa, dimana tiap kali ada masalah, aku bisa bercerita pada orang orang dekatku, saat aku kesulitan aku bisa menyandarkan diriku pada orang tua atau teman, setelah ini nanti, semua kesulitan dan kesusahan apapun, aku mengandalkan orang yang mendekapku dari blakang ini.
...
lalu suamiku mengangkat seluruh dasterku, dan melepas bh ku, tangannya merambat di payudaraku, meremas remas, dan masih saja ia menciumi leherku, hangat nafas dan suara menderu di telingaku..
...
aku jadi ingat, bila pada sore tertentu ibuku menhadiri di arisan lingkungan, pertemuan dasa wisma, memakai baju seragam PKK, menyanyi mars PKK, menyambangi temannya yang sakit, melayat saat tetangga meninggal, dan aku hanya menganggapnya sebagai rutinitas orang tua tua. Setelah ini aku akan melakukannya, dan harus siap dipanggil bu, bukan mbak lagi.
....
suamiku membalikkan badanku, dan ternyata dia pun sudah telanjang bulat, mecium bibirku, lalu membimbingku untuk mundur menuju ranjang, aku terduduk di pinggir ranjang, dan dia membaringkan aku dengan kakiku masih terjuntai di pinggi ranjang. di buka pelan kakiku, lalu ciumannya merambat ke paha.dia jongkok di bawahku.
aku di oral nya.
....
terbayang saat melihat ibu ibu yang datang d irumahku saat ibuku mengadakan arisan, ada salah seorang ibu datang, dengan menggandeng anak usia 3 tahun dengan perut si ibu membuncit karena hamil, betapa repotnya dia duduk dan berdiri, belum lagi anaknya yang kecil berlari lari, ia harus pintar membagi konsentrasi, saat mendengar pengumuman kocokan arisan dengan mengawasi anaknya agar tidak keluar jalan atau mebuat tindakan yang memalukannya.
nanti, akupun akan seperti dia..menjadi ibu, hamil, arisan, membagi konsentrasi...
......
lalu suamiku mengatur tubuhku agar semua dalam posisi diranjang, ia kembali mengoralku dengan posisi tubuhnya berbaring terbalik denganku, aku tahu ini saatnya aku melakukan aktifitas, akupun mengoralnya, satu saat dengan dia mengoralku....
.....
Dulu tidak tiap saat aku bersama suamiku, setelah ini nanti, aku akan selalu bertemu dia, akan aku ketahui sesuatu yang dulu menjadi bagian dari rahasia dia. selama ini aku tidak pernah t ahu bagaimana kesehariannya, yang tampil didepanku selalu yang baik baik saja, pakai baju juga selalu rapi, setidaknya match, nanti aku akan tahu bagian terjeleknya seperti halnya nanti ia akan tahu kebiasaan jelekku. siapkah aku, tahankah aku. bukan untuk sehari da hari, seminggu dua minggu, sebulan dua bula, tapi untuk selamanya. seumur hidupku.
.......
Llau suamiku menghadapkan wajahku dengan wajahnya, kembali ie encium bibirku ,leherku, payudaraku, lalu dia dengan sneyum senyum menganggakan kakiku, dan dengan tangannya ia mengarahkan penisnya untuk memasukkan ke vaginaku.., gagal, ..dicoba lagi, gagal....dicoba lagi.., is seperti sibuk sendiri...
.....
Aku tak bisa membayangkan bila nanti kami serumah bersama dia. 1-2 hari mungkin kami akan menghabiskan waktu dengan bercerita..., tapi tentu itu hanya sampai bertahan sampai habis topiknya., dan itu pasti tak lama. karena bercerita adlah sesuatu yang kami lakukan pada saat kami pacaran..., sampai kemudian kami berciuman. aku tak tahu nanti, bila seluruh topik pembicaraan akan habis, pantaskah bila aku tinggalkan dia untuk membaca buku yang kusuka, atau kubiarkan dia di kamar sementara aku menonton tv?
.......
ada rasa perih saat penisnya masuk, dengan seringainya yang tampak bebas menghiasi wajahnya, ia menatap wajahku. akupun tersenyum. sebagai balas dari senyumnya. dia kemudian mendekapku sambil mengerakkan pinggulnya...
.....
lalu bila semua masalah aku sandarkan pada dirinya, andai aku punya masalah dengan dia, kemana aku harus membicarakannya? menangis sendiri, nelangsa sendiri, atau bahkan harus mencari teman untuk bicara. Ok lah kalau masalahnya sederhana, kalau masalah ranjang, kan aku tak mungkin menceritakan pada temanku.
.....
suamiku makin cepat gerakannya, lalu tiba tiba ia memeluk kencang tubuhku, kencang skeali hingga, aku kesulitan bernafas..
ia orgasme..
....
lalu dengan senyum, ia cium bibirku, dan setelah itu ia merebah disampingku, lemas..
.....
aku berdiri untuk memakai bh dan dasterku. kekamar mandi untuk membasuh bercak sebelum kupakai cd ku,melipat baju pengantin sambil melihat suamiku yang telanjang tertidur..
aku tersenyum melihat dia tersenyum di tidurnya..
sepertinya ia merasa menang akan sesuatu..
..
menang atas apa mas?
besok kamu bangun, justru perang baru dimulai..
.. di kancah kehidupan nyata..
...
banyak yang musti kamu buktikan, ya eksistensimu, ya kapabilitasmu, sebagai suami dan anggota masyarakat..
..
banyak yang musti kamu buktikan..banyak yang musti kamu menangkan..
dan itu bukan malam ini..
besok...
besok..
seumur hidupmu...
.....
jangan tergesa merasa menang dulu
ini bukanlah akhir
ini awal
....

Tidak ada komentar: